http://kusumabaktimulia.org

MENYAMBUT TAHUN BARU 1443 HIJRIAH DAN MEMPERINGATI HUT RI KE-76 DENGAN MEMULIAKAN ANAK YATIM

image

Asal Usul Tahun Baru Hijriyah, Sejarah dan Keutamaannya

Tahun baru Islam, Asal usulnya dimulai ketika seorang Gubernur Abu Musa Al-Asyari menuliskan surat yang diberikan kepada Khalifat Umar Bin Khatab RA. Kepada pemimpin tersebut, Ia mengaku bingung perihal surat yang tidak memiliki tahun.

Hal inilah yang menyulitkannya saat penyimpanan dokumen atau pengarsipan. Kondisi inilah yang mendasari dibuatnya kalender Islam, yang mana saat itu Umat Muslim masih mengadopsi peradaban Arab pra-Islam tanpa angka tahun, hanya sebatas bulan dan tanggal.

Rasulullah SAW sendiri menggunakan kalendar ini sebagai penyempurnaan waktu. Misal saja, mengembalikan bulan menjadi 12 dan tidak memaju mundurkan bulan atau hari yang semestinya masyarakat jahiliyah ketika itu. Allah SWT sendiri berfirman pada Al-Quran Surat At Taubah ayat 36-37, melalui posisi bulan atau hilal.

"Perumusan kemudian diprakarsai oleh Khalifah Umar yang memanggil Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf RA, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam RA, Sa’ad bin Waqqas hingga Thalhan bin Ubaidillah untuk penyusunan kalender Islam." dikutip dari Gramedia.com.

Dalam perumusan tersebut, kemudian disepakati untuk menggunakan sistem kalender yang ada (pra Islam) untuk selanjutnya disempurnakan Rasulullah SAW. Meski kala itu, terdapat perbedaan pendapat dimana beberapa mengusulkan menggunakan milad Rasulullah SAW, namun ada yang mengusulkan dengan peristiwa Isra’ Mi’raj kala Rasulullah menerima wahyu dan diangkat sebagai nabi.

Barulah ketika Ali bin Abi Thalib mengusulkan peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Mekkah ke Yatsrib. Pengajuan ini, dianggap sebagai momentum besar bagi Islam yang mana hijrah merupakan simbol perpindahan masa jahiliyah ke masyarakat madani.

Untuk itu, penting untuk menjadikan peristiwa hijrah sebagai tonggak awal kalender Islam dibanding hari kelahiran Rasulullah, karena dianggap mengarah ke kultus individu yang tak seharusnya ada di dalam Islam.

Pendapat inilah yang kemudian disetujui oleh seluruh sahabat, dan dibuatlah kalender Islam dengan nama Kalender Hijriah Penetapannya, dilakukan pada tahun 1 Hijriyah atau 17 tahun pasca hijrah nabi (638 Masehi).

Pada penerapannya, kalender Hijriyah menggunakan sistem peredaran bulan atau qomariyah, tak sama dengan Masehi yang masih mengandalkan matahari atau Syamsiah. Tak hanya itu, pergantian hari kalender masehi dimulai sejak pukul 12 malam, yang berganti saat matahari terbenam. Hal inilah yang membuat kalender hijriah lebih pendek yakni hanya 11 hari dibanding Masehi.

Arti kata Muharram

Salah satu bulan yang paling utama dalam kalender Islam adalah Muharram. Kata Muharam sendiri, berasal dari kata yang diharamkan atau dipantang dan dilarang. Ini bermakna pelarangan untuk melakukan peperangan atau pertumpahan darah, dan dianggap sharam. Tahun 1 Muharram sendiri adalah Tahun Baru dalam Islam.

Awal mula penamaan Muharam dengan maknanya, didasari dengan kepercayaan jika bulan ini merupakan awal yang baru dalam setahun. Permulaan tersebut, di masa hijrah merupakan masa peperangan. Dalam sejarah pun disebutkan, jika bulan ini merupakan waktu yang sangat ditaati, bahkan ketika di Arab tak pernah terjadi peperangan.

Ketika bulan Muharam, terdapat sejumlah amalan yang bisa dikerjakan oleh kaum Muslim. Salah satu amalan ialah puasa sunnah Tasua serta Asyura. Seperti yang diketahui sebelumnya, Muharam memiliki keutamaan karena selain banyak amalan yang dianjurkan pada waktu tersebut, juga menghapus dosa setahun sebelumnya.

Allah SWT juga berfirman perihal keutamaan Bulan Muharam tersebut:

"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu". (Q.S. At Taubah: 36).

Dalam sebuah hadits, Bulan Muharam adalah bulan haram bersama tiga bulan lainnya yakni Dzulqa’dah, Rajab dan Dzulhijjah. Keutamaan tersebut berbunyi:

"Dalam satu tahun ada 12 bulan, di antaranya ada 4 bulan haram, 3 bulan secara berurutan adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharam dan Rajabnya Mudhor yang berada di antara Jumadil dan Sya’ban". (HR. Bukhori).

Makna dan keutamaan bulan Muharram

Muharam adalah bulan yang spesial, dikarenakan bulan pembuka dalam kalender Hijriyah. Rasulullah SAW bahkan menyebut Muharam sebagai bulan Allah karena keutamaannya.

Sebelum syiar Islam datang, bulan ini disebut sebagai Shafar Al Awwal. Beda halnya bulan Safar atau bulan kedua yang kemudian disebut sebagai Shafar Ats Tsani. Allah SWT memperingati agar manusia tak menzalimi diri sendiri dengan perbuatan dosa.

Berbanding lurus pada amalan yang diberikan, dimana pahala yang dilakukan akan dilipatgandakan. Karenanya, banyak keutamaan yang dapat diraih melalui sejumlah amalan, sebut saja puasa.

Fadhilah Menyantuni Anak Yatim di Bulan Suci Muharram

Fadhilah di bulan Muharram salah satunya adalah Menyantuni anak yatim. Kegiatan tersebut adalah salah satu sunnah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Anak-anak yatim tentunya adalah mereka yang sudah tidak memiliki ayah, padahal ia masih membutuhkan sosok dan nafkah dari sang Ayah. Untuk itu, Rasulullah memberikan contoh pada umat islam untuk mengasih anak yatim.

Anak-anak yatim tentu memiliki masa depan dan harapan yang harus selalu didukung dan diberikan bantuannya. Ia juga harus melanjutkan kehidupannya sesuai dengan Tujuan Penciptaan Manusia.

Selain dari apa yang Rasul contohkan, Allah pun menyampaikan di dalam Al-Quran bahwa sebagai muslim kita harus memberikan kasih sayang dan menyantuni anak-anak yatim tersebut. Sudah menjadi tanggung jawab kita sebagai muslim, jika kita memiliki kemampuan, kecukupan materi, dan kemampuan maka anak-anak yatim ini menjadi tanggung jawab umat islam untuk tetap disantuni, disayang, dan dipelihara.

Perintah Menyantuni Anak Yatim dalam Al-Quran

Di dalam Al-Quran ada banyak sekali perintah untuk menyantuni anak yatim terutama di bulan Muharram. Perintah ini terdapat dalam beberapa ayat Al-Quran dan Allah memberikan balasan keras bagi mereka yang mendzalimi anak yatim apalagi mengambil hartanya dengan cara yang zalim. Itulah mengapa menyantuni anak yatim merupakan salah satu fadhilah di bulan Muharram.

Perintah Berbuat Baik Pada Anak Yatim

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”  (QS An-Nisa : 36)

Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah melarang untuk takabur, sombong, atau membanggakan diri atas harta yang dimiliki. Untuk itu, menghindari kesombongan dan berbangga diri terhadap harta salah satunya kita memberikannya dan berbuat baik kepada mereka yang perlu disantuni salah satunya anak yatim yaitu anak yang sudah kehilangan ayahnya namun masih membutuhkan nafkah dan sosok ayah.

Anak-anak yatim yang diperlakukan tidak baik, tentu akan berefek kepada masa depannya. Ia harus tetap percaya diri dan tetap berada dalam keoptimisan hidup. Untuk itu, tugas kita lah untuk bisa memberikan hal tersebut kepada anak yatim bukan dengan menghardiknya apalagi menzalimi psikologisnya.

Hadist Tentang Keutamaan Anak Yatim

Tidak hanya di dalam Al-Quran, dalam hadist pun terdapat informasi mengenai keutamaan menyantuni anak yatim. Ada beberapa keutamaan anak yatim sehingga bagi kita yang menyantuninya akan mendapatkan balasan yang besar.

Balasan di Surga

“Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Artinya : “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya (HR Bukhari)

Dari hadist di atas, dijelaskan bahwa dengan menyantuni anak yatim, kita bisa mendapatkan balasan di surga. Hal ini tentu diinginkan oleh semua orang dan balasan di surga adalah sebaik-baiknya kebahagiaan atau bahaga yang sejati.

Yang menjadi penting bukanlah kapan kita menyantuni anak yatim akan tetapi sejauh apa kita berniat untuk bisa selalu membantu dan meringankan bebannya hingga mereka bisa tetap tumbuh dan berkembang sebagaimana anak-anak lainnya yang masih memiliki orang tua yang lengkap. Tentu saja kita pun berharap ketika menyantuni anak-anak yatim mereka bisa sukses.

Yuk, Salurkan Donasi Terbaiknya Untuk Santunan anak Yatim Yayasan Kusuma Bakti Mulia yang akan disalurkan dalam kegiatan

Jum'at Barokah, 20 Agustus 2021

Ke Rekening Yayasan Kusuma Bakti Mulia
BRI        : 0386-01-001485-30-8
BCA        : 6241502888
MANDIRI : 166-00-0271811-2
BANK DKI         : 123.11.00621.3

Atas Nanma : Yayasan Kusuma Bakti Mulia

Istiqomah tanpa henti untuk kebaikan dunia akhirat.
Pastikan Donasinya Terkonfirmasi di Whatshapp 0811-1819-948

Indonesia Tumbuh
Indonesia Tannguh
Indonesia Berkah

Fri, 13 Aug 2021 @09:42

Yayasan Kusuma Bakti Mulia
image

Yayasan Sosial Yatim,Piatu & Dhu'afa

Telp 021 29749146 / Wa 0811 1819 948


Jl. Rawa Kuning N0.6 Pulogebang, Cakung, Jak Tim
Rekening Yayasan :
BCA : 6241502888
Mandiri : 166.000.271811.2
BRI : 0386.01.001485.30.8
Bank DKI : 123.11.00621.3
Atas Nama : Yayasan Kusuma Bakti Mulia
WAKAF
image

Yuk... BERWAKAF Semua bisa berwakaf
(klik gambar diatas)

SAFARI SANTUNAN
image

 SAFARI SANTUNAN AKHIR TAHUN YAYASAN KUSUMA BAKTI MULIA

Peringatan Hari Besar Islam
image

Peringatan Hari Besar Islam
Maulid Nabi Muhammad SAW

SANTUNAN LEBARAN YATIM

YAYASAN KUSUMA BAKTI MULIA

JUM'AT BAROKAH
image

KEGIATAN RUTIN PEKANAN

DZIKIR, ISTIGHOSAH, DOA BERSAMA ANAK YATIM PIATU DHUAFA BINAAN YKBM & SANTUNAN

HARI : JUM'AT

JAM   : 15.30 WIB / BA'DA ASHAR

TEMPAT AULA YAYASAN KUSUMA BAKTI MULIA

Copyright © 2021 Yayasan Kusuma Bakti Mulia · All Rights Reserved